Apa yang Kamu Makan Kemarin?

Rumi sering bertanya kepada sa­habat, “Apa yang kamu makan kemarin?” dan kemudian ingin makan makanan yang sama, seakan-akan dia dengan demikian dapat menggunakan sifat-sifat sahabatnya melalui tindak persatuan spiritual.

Penggunaan kata “kemarin” dalam pertanyaan seperti itu kiranya juga menunjuk ke “Kemarin Primordial”, yaitu hari Perjanjian ketika Tuhan berfirman kepada jiwa-jiwa yang belum menjadi makhluk dengan kata Alastu, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?

Mengingat pada hari itu, sebelum adanya hari, dibagi-bagikan minuman Cinta, dan setiap jiwa memperoleh bagiannya masing-masing dari makanan spiritual abadi, suatu bagian yang sesuai dengan bagian inilah kehidupannya di dunia ini terbentang.

Rumi mengatakan, siapa yang banyak meneguk air anggur Cinta pada perjamuan primordial itu menjadi sangat bernilai. Karenanya, permukaan tubuh periuk ketel yang terhitamkan itu tidak akan mampu menghilangkan nilainya.

Keadaan manusia juga begitu. Kalau esensi manusia itu suci, manusia itu tidak akan ternodai oleh gelapnya dan polusi dunia material. Namun di mana-mana ada periuk ketel dan dapur. “Ingin kuambil sendok yang penuh darah dari periuk ketel ‘Jiwa'”, kata Rumi.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

error: Alert: Content is protected !!