“Cinta” Mengingatkan, “Cinta Itu Sekuat Kematian”

Kekuatan-kekuatan alam kadang kala membanjiri hidup manusia; merasa bisa berenang-renang di bah kekuatan alam yang menyehatkan itu. Ada masanya untuk dapat mengapung mengikuti aliran cinta sam­pai samudra.

Cinta khusus ini tumbuh perlahan, seperti persahabatan, atau seperti api yang menyala pelan dari kawul. Cinta ini akhirnya bisa menyala dan membakar dalam waktu yang lama, tetapi hanya bila manusia tak terbu­ru-buru.

Kidung Agung yang me­makai kata “cinta” untuk mengingatkan: “Cinta itu sekuat kematian.” Artinya, cinta yang merekah dan bersahabat, yang menomorsatukan Allah Sang Terkasih, lebih kuat ketimbang jalan di antara banyak dunia.

Hidup adalah mulia. Sa`di me­nyatakan:

Ini napas musim semi pertama
Tapi aku mencium harum taman ataukah wangi pertemuan dua sahabat?

Namun mengapa banyak manusia yang enggan? Sebab, sungainya tak bermuara ke sa­mudra, dan di sungai ini terdapat banyak pusaran dan kelokan. Perhatikanlah airnya, palungnya, bebatuannya, atau arusnya. Di sana terdapat banyak hal, dan lebih ba­nyak lagi.

Anggaplah Sang Mahasuci sebagai sungai, mata air, dan samu­a kehidupan. Sepertinya namanya Al-Wahhab, Allah menunjukkan pro-perubahan yang bisa terjadi di dalam diri (batin) manusia: riak kecil akan menggerakkan seluruh air sungai.

“Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?” (QS Al-Ankabut [29] :2-3). “Dan kami akan uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan” (QS al-Anbiya [21]:35).

Hanya seorang musafir, yang akan menemui titik akhir perjalanannya.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

error: Alert: Content is protected !!