Meneropong Ekonomi 2020

83

Pada Oktober 2019 lalu lembaga keuangan internasional (IMF) mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang mereka buat pada April 2019 lalu. Hasilnya tak tanggung-tanggung. Ekonomi dunia pada 2019 dan 2020 diproyeksikan tumbuh lebih rendah daripada proyeksi yang IMF buat pada April lalu.

Pada Oktober lalu, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2019 ini mencapai 3,0 persen, turun dibanding proyeksi IMF yang dibuat pada April yang mencapai 3,3 persen. Sementara itu, untuk pertumbuhan ekonomi pada 2020, IMF memproyeksikannya mencapai 3,4 persen, turun dibanding proyeksi yang dibuat pada April lalu yang mencapai 3,6 persen.

Salah satu faktor utama yang memengaruhi proyeksi IMF adalah meluasnya dampak dari perang dagang (trade war) antara Amerika Serikat (AS) dan Cina. Selain itu, faktor lainnya adalah meluasnya kebijakan proteksionisme oleh AS.

Dampak dari perang dagang tersebut terlihat sangat nyata. Akibat dari perang dagang dan kebijakan proteksionisme yang dilancarkan AS tersebut, pertumbuhan perdagangan dunia mengalami penurunan.

Melemahnya pertumbuhan perdagangan dunia ini menurunkan pertumbuhan sektor industri, baik industri yang dimiliki oleh negara maju (advanced economies/AE) maupun negara-negara berkembang (emerging market/EM). Menurunnya pertumbuhan sektor perdagangan dan industri inilah yang kemudian turut menurunkan laju pertumbuhan ekonomi di negara-negara terdampak tersebut.

EM merupakan kelompok negara yang paling menderita akibat perang dagang ini. Pasalnya, AS dan Cina merupakan pasar utama tujuan ekspor EM. Tidak hanya pasar ekspor ke AS dan Cina yang terganggu. Pasar tujuan ekspor EM di negara lain pun menjadi ikut terdampak karena dampak perang dagang ini yang telah meluas.

Sebagai respons dari potensi melemahnya pertumbuhan ekonomi, bank-bank sentral di berbagai negara pun mulai melonggarkan kebijakan moneternya melalui penurunan suku bunganya (policy interest rate). Bahkan, di sejumlah negara, suku bunga bank sentralnya ditetapkan negatif, sebagaimana yang diberlakukan oleh bank sentral Jepang dan Uni Eropa.

BACA JUGA
Analis Ekonomi: Sri Mulyani-Chatib Basri Menteri ‘Pencekik’ Rakyat!
Powered: welizon.com

Pertanyaannya, bagaimana pengaruh perang dagang tersebut bagi perekonomian Indonesia? Pada November 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) telah menerbitkan publikasinya terkait dengan kinerja pertumbuhan ekonomi kita pada kuartal III-2019.

Hasilnya, ekonomi pada kuartal III-2019 tumbuh 5,02 persen, yang berarti lebih rendah daripada kuartal-kuartal sebelumnya. Seiring dengan kinerja ekonomi pada kuartal III-2019 yang tumbuh sebesar 5,02 persen tersebut, selama sembilan bulan pada tahun 2019 ini ekonomi kita tumbuh sebesar 5,04 persen.

Sejumlah analis meragukan kredibiltas angka pertumbuhan ekonomi yang dikeluarkan BPS tersebut karena masih “kokoh” di angka 5 persen. Keraguan ini didasarkan pada kinerja ekonomi negara lain yang mengalami penurunan cukup dratis, terutama selama perang dagang AS dan Cina.

Sebagai gambaran, IMF pada Oktober 2019 lalu mengoreksi laju pertumbuhan EM pada tahun 2019 ini menjadi 3,9 persen dari proyeksi sebelumnya (April 2019) sebesar 4,4 persen atau dipangkas 0,5 persen.

Dengan perbedaan yang cukup signifikan ini, wajar bila muncul keraguan terhadap kredibilitas angka pertumbuhan ekonomi yang dikeluarkan BPS tersebut.

Saya sendiri dalam posisi yang meyakini bahwa angka pertumbuhan ekonomi yang dikeluarkan BPS tersebut kredibel. Pertumbuhan ekonomi kita yang masih bertahan di angka 5 persen karena memang didukung oleh permintaan domestik (domestic demand) yang masih relatif kuat.

Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) relatif berhasil dalam mengendalikan inflasi. Pemerintah pun cukup berhasil dalam menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok masyarakat ke bawah, sehingga pertumbuhan konsumsi rumah tangga (RT) masih terjaga. Tingginya jumlah kelompok masyarakat kelas menengah juga menjadi penopang penting dalam menjaga pertumbuhan konsumsi RT.

Namun, terlepas dari adanya pandangan yang berbeda terkait dengan angka pertumbuhan ekonomi yang dikeluarkan BPS tersebut, ada satu hal yang sebenarnya kita pada akhirnya sepakat. Kita sepakat bahwa daya dorong perekonomian makin terbatas dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, bahkan berpeluang pertumbuhan ekonomi kita menjadi lebih rendah.

BACA JUGA
Isu 13 Juta Pengguna Bukalapak Bobol
Powered: welizon.com

Saya meyakini bahwa melemahnya daya dorong pertumbuhan ekonomi kita tersebut salah satunya dipengaruhi oleh dampak dari perang dagang antara AS dan Cina. Indikasinya, pertumbuhan ekspor kita melemah, yang antara lain disebabkan menurunnya permintaan dari AS dan Cina serta negara-negara lain yang perekonomiannya melemah akibat terdampak perang dagang.

Otoritas ekonomi kita sebenarnya telah melakukan sejumlah kebijakan untuk merespons melemahnya kinerja pertumbuhan ekonomi. Sayangnya, dalam tataran praktis, sering kali kebijakan yang dikeluarkan oleh para pemegang otoritas ekonomi kita kurang efektif akibat masih kurang sinkronnya di tingkat koordinasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here